Saturday, November 17, 2012

Histeria itu untuk Mereka


13531693801163323830
Sore tadi udara cukup cerah dan sempurna untuk menyaksikan pertandingan antara Indonesia vs Kamerun. Kali ini cuku spesial karena saya mengajak anak laki-laki saya setelah Istri dan anak perempuan saya lebih memilih berkegiatan sendiri-sendiri. Yah, saya senang karena sekarang si entong yang berumur 4 tahun juga hobi nonton bola, sehingga saya tidak usah repot nyari teman nonton bola.

Kembali ke lapangan, kalau hari Rabu kemarin waktu lawan Timor Leste yang nonton cuman sedikit banget, katanya gak sampai 5 ribu yang membuat GBK kelihatan melompong. Nah kali ini lain kejadiannya. Hampir seluruh tribun barat bagian bawah penuh plus tribun utara dan selatan. Berapa puluh ribu ya...
1353169469587963859
Di tribun timur, gara-gara panggung buat perayaan puncak 1 Muharram besoknya, membuat penonton banyak yang 'migrasi' ke tribun utara dan selatan. Saya sempat memperhatikan satu kelompok suporter sedang 'towaf' dari tribun timur menuju tribun selatan.
13531694331417242502
Berbagai elemen kelompok suporter 'mengisi absensi' dengan spanduk-spanduk mereka. Mulai dari Bonek Surabaya, Pasoepati Solo, Panser Biru Semarang, Spartacks Padang, Macz Man Makasar, Slemania, Bekasi, Brebes, Purbalingga, dan beberapa lainnya. Saya agak 'scanning' kelompok suporter soalnya kelompok suporter asal kampung saya, Aremania, absen.

Suara terompet bersahut-sahutan dan teriakan 'Indonesia! Indonesia!' berkumandang berkali-kali ketika para pemain Indonesia melakukan pemanasan. Tapi suporter Indonesia kayaknya udah lumayan maju, ketika tim Kamerun melakukan pemanasan suporter memberikan aplaus yang cukup meriah juga.
1353169810787543235
Kemudian sayup-sayup sebuah kelompok suporter menyanyikan 'Garuda di Dadaku', sontak suporter yang lain mengikuti. Terasa lebih menarik karena anak saya berdiri di kursi dan ikut menyanyikan lagu itu dengan keras.

Tibalah saat pertandingan. Dimulai baris para pemain, bendera Merah Putih dan Kamerun, serta bendera fairplay.

Lalu waktunya Indonesia Raya dikumandangkan. Inilah saat yang membuat hati tergetar. Tampak para pemain Indonesia tidak kalah semangat dengan para penonton menyanyikan dengan sangat hikmat. Termasuk si Tony Cussel dan JvB, punggawa baru timnas Garuda.

Saat salaman masih ada surprise ketika Din Syamsudin yang Ketua Muhammadiyah justru semacam menjadi tuan rumah diiringi pengurus PSSI.

Indonesia kali ini dikapteni Wahyu Wijiastanto. Starter Endra Prasetya, Handi Ramdan, Nopendi, Novan Setya, Toni Cussel, Taufik, Okto, Andik Vermansyah, Irfan Bachdim, dan JvB.

Permainan di awal-awal Babak I terjadi cukup cepat. Kedua tim silih berganti menyerang. Cuman para pemain Kamerun yang punya badan kayak Wahyu semua memang kelihatan lebih tajam. Setidaknya ada 2 peluang emas yang gagal dimanfaatkan pemain mereka nomor punggung 9 dan 10. Endra Prasetya melakukan tidak kurang 3 kali penyelamatan gemilang.

Umpan-umpan Toni Cussel yang dipercaya coach Nil sebagai jangkar lini tengah bersama Taufik beberapa kali sering salah sasaran karena salah pengertian, namun dia juga sigap dalam memotong aliran serangan lawan dengan beberapa tekel bersihnya. Okto dan Andik terlalu sering memaksakan diri melewati lawan yang membuat serangan menjadi sia-sia. JvB bermain cukup efektif. Serangan Indonesia yang memakai JvB sebagai wallpass cukup efisien dalam merepotkan pertahanan Kamerun. Sementara si Irfan sangat terllihat punya mobilitas yang sangat tinggi dalam menyerang dan bertahan. Bener-bener nafas 'kuda'.
Selepas 20 menit permainan Indonesia mulai sedikit hilang kecanggungan. Permainan mulai mengalir dan serangan-serangan sayap dari Okto dan Andik mulai menggigit yang sayangnya barisan belakang Kamerun juga cukup tenang mengatasinya.

Walhasil, silih berganti serangan tidak membuat jala kedua tim bergetar.
Pada babak kedua coach Nil melakukan beberapa pergantian. Kiper Endra diganti Wahyu Trijati, dan BP menggantikan JvB. Pada awal-awal babak serangan dari sayap terlihat sangat hidup. Okto dan Andik saling bergantian memberikan kontribusi dalam merepotkan barisan pertahanan kamerun. Bahkan Andik sempat memaksa kiper Kamerun melakukan penyelamatan gemilang atas tendangan kaki kanannya ke tiang jauh.

Beberapa pemain terlihat cedera, dan yang kelihatannya parah si Handi Ramdan yang bermain cukup lugas dan jarang kalah dalam bola-bola atas. Fahrudin yang menggantikannya juga bermain cukup tenang. Tampaknya barisan pertahanan sudah cukup mantap.

Di tengah coach Nil menarik Andik dan Okto untuk memasukkan 'Kakak' Ellie Aiboy dan Vendry Mofu. Dengan formasi ini, Indonesia berusaha mengefisienkan perebutan di lini tengah mengingat keadaan kritis pada 20 menit terakhir yang biasanya timnas kehilangan konsentrasi. Pelajaran dari lawan Korut beberapa waktu lalu membuat jajaran pelatih sudah mengantisipasinya.

Akhirnya dua babak selesai dengan kedudukan tetap 0-0. Penonton tampak puas dengan sajian timna. Aplaus suporter pada para pemain timnas ketika pertandingan berakhir menandakan hal itu. Yah, Kamerun adalah tim dunia, walaupun yang dibawa ke GBK adalah tim pelapis yang sebagian besar dari liga domestik, suporter tetap bangga akan pencapaian itu.

Walhasil, selamat datang pahlawan-pahlawan baru timnas. Namamu sudah tidak lagi aneh. Suporter-suporter sangat fasih dengan kalian semua. Siapapun pegang bola, tidak ada yang tidak dikenal. Kalau dulu anak saya cuman tahu sama Irfan Bachdim, Andyk, dan Okto, kini dia juga tahu Taufik, Nopendi, Wahyu Wiji dan Wahyu Tri, Endra, Novan Setya, Mofu, Toni, JvB sampai si senior Ellie. Oh ya, anak saya gak tahu BP, tapi sekarang dia juga tahu.

Sedangkan nama-nama pemain yang tidak bernyali untuk bergabung, sudahlah, PSSI harus segera memberikan kado pertandingan perpisahan kepada mereka.

Untuk para ISL lovers, siap-siap Anda gagu dan gagap dengan nama-nama pemain Anda. Jangan sampai anak saya menyebut bahwa pemain-pemain dari klub ISL di antaranya: Umuh Muhtar (Persib), Lalu Mara (Pelirema), La Sya (Persipura), Hendri Zainudin (Sriwijaya FC), Feri Paulus (Persija), Sudarmaji (Pelirema), Iwan Budiyanto (Pelirema), Wisnu Wardana (Persebaya DU), Dodi Alex Nurdin (Sriwijaya FC), Rendra Kresna (Pelirema), dan La Nyala Mataliti (Persebaya DU/kapten KPSI & ISL lover).
Nama-nama itu telah menenggelamkan sekaligus mengkerdilkan jiwa semua pemain ISL. Ah sudahlah, saya lagi bergembira ria dengan generasi baru sepakbola Indonesia. Sepakbola yang bermartabat.

Jakarta, 17 Novemnber 2012

Salam,

Udyn 'Jon Si Gembala Sapi' Muhyiddin

Wednesday, November 7, 2012

Nil Maizar: Sang Revolusioner



“Stop! Mendekat sedikit! Ingat filosofinya. Setelah oper bola, bantu dan pikir, setelah itu bagaimana supaya permainan tetap berkembang. Gerak terus. Setelah oper bola, bergerak, cari posisi, bantu teman yang pegang bola. Semua harus dalam satu visi. Oke?”

“Ely kasih bola ke saya..” lalu Nil Maizar memberikan sedikit simulasi tentang taktik yang dia jelaskan sebelumnya.

Suaranya menggelegar memecah dinding-dinding beku suasana mendung sore hari di Gelora Bung Karno. Nada bicaranya tegas tapi santun. Keras tapi manis. Stadion megah dan terbesar di Indonesia yang tadinya beku seolah lumer ketika sang maestro berbicara.

”Kita menghadapi segala yang ada. Kita yakin saja. Kita tidak perlu takut dengan apa yang terjadi,” lugasnya ketika ditanyakan tentang masalah-masalah besar yang mendera perjalanannya dalam memimpin timnas Indonesia. Ancaman demi ancaman terus berlalu tapi Nil dengan spartan melewatinya dengan dingin. Timnas yang dipimpinnya masih diboikot oleh klub-klub ISL sehingga sekitar 8 pemain incarannya tidak mau bergabung. Satu persatu klub pimpinan ISL mengucapkan koor bahwa jika bukan Riedl yang ngelatih timnas ISL tidak akan melepas pemain ke timnas. Nil juga dianggap oleh petinggi-petinggi klub ISL tidak berkelas dan tidak pada level yang sama dengan pelatih asal Austria yang memberi Indonesia gelar runner up di AFF 2010 lalu.

Dicap rendah seperti itu, apa jawaban Nil, “Silakan menyebut saya pelatih yang tidak berkualitas, tapi jangan pernah menyebut pemain-pemain saya tidak berkualitas karena mereka adalah pejuang yang sebenarnya. Mereka adalah orang yang selalu menerima penghinaan kalian dengan lapang dada dan tetap berjuang demi menjaga kehormatan bangsa.” Menurutnya, pemain-pemain itulah patriot yang sesungguhnya. Dia marah karena anak didiknya dianggap pemain tarkam, dan sebagainya.

Sampai sebulan menjelang hajatan besar Piala AFF 2012 Nil baru mengantongi 14 pemain. Semen Padang yang merupakan tim asal Nil berkarir juga membuat keputusan yang memberatkannya. 8 pemain asal SPFC yang Nil panggil terancam tidak datang karena sang komisaris SPFC diminta untuk solider dengan klub-klub ISL lainnya mengingat SPFC akan menyeberang kompetisi ke ISL dari sebelumnya juara di IPL.

“Buat apa takut-takut. Kerja saja sungguh-sungguh. Kita ikhlaskan saja sama Allah,”

Sebuah mantera ampuh yang berasal dari hadits Nabi ‘man jadda wa jada’ yang dipopulerkan Ahmad Fuadi -novelis asal Sumatera Barat- yang seringkali dibenamkan di benak kita oleh para orang tua-orang tua kita terasa sangat membuat ringan segala beban di pundak sang coach yang juga berasal dari tanah Minang ini.
Kini 18 hari menjelang kick off AFF 2012, Nil sudah punya 22 pemain plus 3 pemain naturalisasi. Suasana latihan terasa akrab, ceria, namun serius. Semua pemain menyatukan visi. Tidak ada IPL, ISL, naturalisasi, dan lain-lain. Yang ada timnas Indonesia. Sauasana kekeluargaan begitu lekat, berbaur dengan kedisiplinan yang ketat.

Nil juga selalu mengingatkan pemainnya akan pentingnya keluarga. “Kan kita bekerja untuk orang yang kita cintai. Karena dengan cinta, kita jadi lebih termotivasi, ketimbang punya rasa benci. Pikirkanlah. Hanya beberapa detik saja, siapa orang yang kita cintai? Istri kita, anak-anak kita, atau yang punya pacar, mungkin pacar. Karena dalam pertandingan itu, kita tidak perlu memiliki kecemasan, ketakukan, dan itu harus dihilangkan. Karena itu akan mengganggu kita.”

Nil adalah motivator hebat. Kepiawaian seorang pelatih dalam memberikan motivasi adalah nilai plus yang membuat sang pelatih menonjol. Jose Mourinho sangat pintar mengambil sisi psikologis pemain sehingga dia bisa membuat timnya menjadi tim juara. Sir Alex Ferguson yang terkenal dengan makian ‘hairdrier’ ketika di ruang ganti justru melecut pemain-pemain MU menjadi gladiator yang bersiap melumat lawan.

Nil adalah pelatih cerdas. Nil mempersiapkan semua skenario dengan berbagai macam skema. Skema yang berisi lengkap semua pemain IPL, ISL, dan naturalisasi. Lalu skema pemain IPL dan ISL tanpa pemain naturalisasi. Juga skema pemain IPL tanpa pemain ISL dan pemain naturalisasi. Bahkan skema pemain IPL saja minus 8m pemain SPFC.

Permainan sepakbola moderen kini banyak berkiblat ke Spanyol dan Barcelona. Ball possession adalah salah satu taktik utamanya. Nil paham, untuk pemain-pemain Indonesia yang punya fisik kecil permainan dari kaki ke kaki mungkin sebuah keharusan. Nil pun punya ide yang brilian.

“Dalam sepakbola, possession football 'kan penting. Menguasai bola selama mungkin. Karena dengan menguasai bola selama mungkin, kesempatan untuk mencetak gol juga semakin besar, 'kan gitu. Tapi, membuat permainan seperti itu tidak mudah karena membentuk tim seperti itu 'kan tidak mudah. Perlu menyatukan karakter-karakter pemain yang berbeda.”

“Itu tergantung dari apa yang diinginkan oleh seorang pelatih. Contoh, Bayern Munich melawan Chelsea di final Liga Champions. Itu ball possession-nya Bayern sampai 70 berbanding 30. Tapi, Chelsea bukan bermain bertahan. Memang taktik mereka seperti itu. Ketika mereka menang bola, mereka langsung mengubah formasi defense menjadi attack, mereka langsung bermain lepas. Mereka juga memerhatikan, bagaimana posisi (pemain) mereka ketika mengubah dari defense menjadi attack. Ini yang digunakan. Nah, untuk melakukan ini, dibutuhkan semacam pencerahan kepada pemain dan set-up pada saat latihan. Istilahnya kalau kita di sekolah dulu itu, sebelum upacara, perlu gladi resiknya dulu.”

Itulah karakter Nil.

Sejarah selalu menuliskan bahwa dalam keadaan revolusi, selalu muncul patriot-patriot yang berjuang membela sebuah nilai. Pada masa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia, muncul revolusioner dalam diri Soekarno dan banyak teman seangkatannya. Hatta, Sjahrir, Wahid Hasyim, Sultan Hamengkubuwono IX, Soedirman, Tan Malaka, dan lain-lain. Pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan muncul Bung Tomo.

Itulah sejarah. Nil masuh sejarah persepakbolaan Indonesia ketika dalam masa revolusioner. Apa yang dikatakan Nil tentang timnya sekarang ini. "Ini generasi baru timnas Indonesia. Skuad kami berbeda dibanding Piala AFF dua tahun lalu,"

Salam perjuangan untuk Timnas Indonesia,

Udyn ‘Jon’ Muhyiddin

Referensi:

Wednesday, July 7, 2010

Belanda Juara Dunia Baru 2010?

Akhirnya Afrika Selatan 2010 menyajikan final yang akan menghasilkan negara ke 8 sebagai juara dunia sepakbola. Siapakah itu? Indonesia? Idih, bangsa ini masih jauh ke sana. Walaupun kita pernah bisa ke final PD, yaitu Tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 di Perancis. Bangsa ini masih harus belajar cepat bersportivitas di segala bidang. Suatu saat negeri ‘tanah air beta’ ini akan ke putaran final PD, lalu masuk elit sepakbola dunia, bahkan menjadi contender juara dunia lalu menjadi juara dunia. Itu akan terjadi ketika tak ada lagi model kasus Susno, Bibit-Chandra, suap pemilihan gubernur BI, rekening gendut polisi, kasus Gayus dan mega-Gayus (fenomena gunung es), Century Gate, dan …. ah terlalu banyak dan panjang untuk disebutkan.

Belanda dan Spanyol adalah 2 tim jagoan saya yang saya nilai berpeluang besar menjadi juara sebelum hajatan 4 tahunan ini dimulai (bisa dilihat di note saya sebelumnya) yang lolos terus sampai akhir. Dua lagi yang saya jagokan mengisi semifinal adalah Argentina dan Inggris, yang sayangnya keduanya rontok di gilas Panser Jerman.

Belanda dan Spanyol akan membuktikan bahwa mereka adalah juara dunia sejati karena telah melewati tim-tim dengan tradisi juara. Belanda mengalahkan Brazil (juara dunia 5 kali) dan Uruguay (juara 2 kali), sedangkan Spanyol mengalahkan Jerman (juara 3 kali). Van Oranje dan La Furia Roja akan menjadi juara dunia di luar benua, mengikuti Brasil yang dua kali juara di luar benua, pertama di Swedia pada 1958, lalu di Korea-Jepang pada 2002. Van Bronchorst dan kawan-kawan dan Casilas dan kawan-kawan akan melewati Italia, Jerman, Perancis, dan Inggris sebagai juara dunia dari Eropa yang Cuma jago kandang di benuanya saja.

Tim asuhan Bert van Marwijk sudah meninggalkan tradisi total football yang legendaries itu sejak menerima tongkat kepelatihan dan Marco van Basten. Tim asuhan Van Basten bermain apik di Euro 2008 masih dengan total football yang sayangnya dihentikan oleh pewaris total football yang lain yang melatih Rusia, Guus Hidink. Sesekali total football muncul di tim Belanda 2010 ini, salahsatunya ketika tertinggal 1-0 dari Brasil. Setelah gol Robindo di menit 10, Belanda mulai dengan sabar melakukan ball posession dan terus berkreasi mencari celah di pertahanan Brasil sampai akhirnya mendapatkan celah lewat set piece bola-bola mati. Di luar itu, Belanda bermain sangat efektif dalam menyerang. Itulah yang membuat Belanda tidak pernah menang besar, sebagaimana di turnamen2 sebelumnya. Dimulai dari menang 2-0 atas Denmark, 1-0 atas Jepang, 2-1 atas Kamerun, 2-1 atas Slovakia, sampai 2-1 atas Brasil. Total 12 gol dilesakkan Belanda dalam 6 pertandingan.

Kalau nanti menghadapi Spanyol, yang justru mengadopsi strategi utama total football ala Barcelona (dalam sejarah Barcelona memakai pola total football sejak kedatangan Johan Cruijf baik sebagai pemain maupun pelatih), total football Belanda akan muncul jika mereka ketinggalan gol sebagaimana melawan Brasil. Jika tidak, maka Belanda akan bermain efektif sebagaimana biasanya.

Kita lihat ke tim asuhan Vicente del Bosque. Tim ini adalah Barcelona minus Messi. bagaimana tidak, 7 pemain asuhan Guardiola jadi starter saat melawan Jerman. Skuad Barca hanya meninggalkan Valdes di bangku cadangan. Di belakang Puyol dan Pique jadi benteng yang dilapis Ramos dan Capdevilla sebagai pengganti Dani Alves dan Maxwel di Barca. Di tengah dan depan, semua Barca kecuali David Villa yang tahun ini menyeberang dari Valencia ke Barca. Praktis hanya Messi yang jadi pembeda karena Spanyol tidak punya pemain sehebat dan seeksplosif pemain yang dijuluki ‘titisan Maradona’. Messi jadi pembeda kenapa Spanyol hobi menang 1-0 meski sepanjang pertandingan mengurung pertahanan lawan, padahal Barca dengan pola yang sama hobi menang dengan banyak gol. Spanyol hanya mencetak 7 gol dalam 6 pertandingan, 5 diantaranya oleh David Villa. Walaupun irit, Spanyol sangat kuat.

Yang jelas pertandingan akan rame, jauh lebih rame mengutak-atik politik negeri ini. Serangan demi serangan akan silih berganti. Saya berharap Belanda yang jadi juara baru itu, karena ada sedikit darah oranye di dalam darah ‘biru’ saya…..:)

4 tahun lagi di Brasil, Argentina akan datang dengan kapten baru, Lionel Andres Messi. Argentina yang akan menjadi juara di 2014. Piala Dunia yang digenggam bocah ajaib ini akan menghapus kenangan akan tangisannya di Green Point Stadium Cape Town setelah laga lawan Jerman tanggal 3 Juli 2010, 10 hari setelah ulang tahunnya yang ke 23.

Kini tinggal 2 pertandingan lagi, saya sedih meninggalkan bulan sepak bola yang datang cuman 4 tahun sekali ini. Tak ada lagi sarana melupakan masalah2 besar bangsa ini. Di kantor ini adalah jantung birokrasi Indonesia, saya melihat hal2 percuma yang banyak dilakukan walaupun tidak akan pernah memperbaiki nasib bangsa ini.

8 Juli 2010, pukul 12.08 WIB.

Tuesday, June 29, 2010

Fast Break dan Triangle Offence Ala Basket NBA di Piala Dunia

Brother NAM, kolega saya di Bappenas, menyebut pola fast break ala basket NBA sebagai resep jitu yang diterapkan Jerman untuk ‘membunuh’ Inggris di perempat final Piala Dunia 2010 ini. Saya mencoba menelaah dan menggali kembali lewat siaran ulang pertandingan tersebut, dan ternyata memang benar. Jerman dengan fasih menerapkan serangan cepat yang menusuk jantung pertahanan lawan ketika lawan melakukan turn over. Keempat gol Jerman ke gawang David James memperagakan sebuah pola pertahanan yang ketat agar lawan membuat kesalahan lalu melakukan umpan-umpan panjang yang tepat dan berujung gol. Wow, benar-benar seperti ketika Pou Gasol mendapatkan rebound, lalu dioper ke Derek Fisher yang tanpa mengontrol langsung mengoper ke Kobe Bryant yang tinggal melakukan dunk. Tim Panser melakukan ’rebound’ atau ’steal’ lewat barisan pertahanan, lalu dioper ke Mesut Ozil atau Bastian Schweinsteiger lalu ke Thomas Muller dan diselesaikan oleh Miroslav Klose dan Lukas Podolski. Terlepas dari kesalahan Capello dalam meramu tim Union Jack untuk menghadapi Jerman, yang jelas si Deutchland Uber Alles sukses menjadikan Jabulani seperti bola basket yang bisa dioper panjang, cepat, dan akurat untuk menghancurkan Inggris.

Catatan kecil, fast break di basket NBA adalah salah satu favorit momen, bahkan paling favorit yang bisa menjadikan keadaan berbalik atau meninggalkan lawan. Tapi untuk sepakbola hal itu justru akan membuat jalannya pertandingan berjalan lambat karena yang dilakukan hanya menunggu dan menunggu kelengahan lawan. Sepakbola bukan perlombaan memancing.

Mengamati partai 16 besar ini tim-tim bertradisi menyerang ala Belanda dan Argentina juga mulai melakukan pragmatisme. Kalau Brasil dibawah Dunga memang mengandalkan pragmatisme untuk menang, maka asas efisiensi menjadi pertimbangan utama, tidak perduli pertandingan itu membuat tertidur para penonton, apalagi di Indonesia yang siarannya kebanyakan menjelang midnight dan dini hari.

Argentina, kalau di NBA bisa diibaratkan era Michael Jordan di Chicago Bulls dulu dengan pola serangan triangle offence yang cukup efektif. Peran Jordan sudah pasti dipegang oleh si ’ajaib’ Messi. Argentina ketika melawan Meksiko di 16 besar sangan kelihatan sekali mulai meninggalkan sepakbola menyerang nan indah sebagaimana tradisi tim Tango sebelum-sebelumnya. Argentina lebih senang ’menyerahkan’ bola ke Messi mulai dari tengah lapangan, lalu membiarkannya menari-nari melewati hadangan pemain lawan, dan lalu menembak atau memberi assist kepada Tevez dan Higuain. Itulah triangle offence ala Maradona di tim dari negeri Evita Peron. Terlepas dari alasan Maradona bahwa wasit kurang melindungi Messi sehingga dia menginstruksikan Messi untuk tidak banyak memegang bola dan meminta pemain-pemainnya untuk lebih ‘kalem’ dalam menyerang, Argentina jelas mulai pragmatis.

Yang saya sangat kecewa tentu saja Belanda. Sejak kapan Belanda mengadopsi gaya tim basket dimana lebih menitikberatkan ke pertahanan dengan mengandalkan fastbreak untuk meraih kemenangan. Gol Robben dan Sneijder ke gawang Slovakia benar-benar memperlihatkan bahwa Belanda telah berubah. Bermain lebih ‘aman’ Belanda mendapatkan hasil lewat umpan panjang Sneijder yang dieksekusi dengan sempurna oleh Robben, walaupun dengan mengelabuhi 3 pemain bertahan Slovakia. Saya mengira setelah itu Belanda kembali ke asalnya, ke total football. Ternyata saya salah, sepanjang pertandingan Belanda terus bermain aman. Gol Sneijder juga gaya fastbreak, lewat tendangan bebas panjang Van Bronchorst yang dikontrol sempurna Dirk Kuyt sekaligus melewati kiper lawan, lalu menyodorkan umpan mematikan kepada Sneijder yang menceploskan ke gawang yang sudah kosong.

Brasil 2010 ini seperti terobsesi pada tim Samba 2002 yang jadi juara dunia. Triangle offence jaman itu dimainkan dengan sempurna oleh Ronaldinho, Ronaldo, dan Rivaldo yang memporak-porandakan seluruh lawan Brasil. Scolari memanfaatkan keunggulan teknis ketiga bintang tersebut untuk melakukan tiktak segitiga untuk menyerang, sementara pemain lainnya lebih berkonsentrasi ke pertahanan. Saking pragmatisnya, pernah terlihat Scolari berteriak-teriak marah kepada Gilberto Silva yang terlihat ikut aktif menyerang dan kepada Lucio yang melakukan overlap. Nah, cerita di 2010 ini Dunga memanfaatkan Kaka, Rubinho, dan Fabiano untuk melakoni peran triangle, dengan variasi Baptista atau Elano. Walaupun Jogo Bonito dikritik sana-sini, Dunga toh sukses meramu pola sederhana tersebut. Bahkan di 16 besar mampu menggulung tim Chile yang dilatih pelatih cerdas yang hobi menyerang asal Argentina, Marcelo Bielsa.

Paraguay dan Jepang sama-sama bermain aman dari awal hingga akhir perpanjangan waktu. Walhasil, adu penalti pertama di PD 2010 harus dilakoni keduanya. Paraguay lebih beruntung, walaupun kalau melihat laga keseluruhan bolehlah kita menyatakan kalau Paraguay memang lebih ‘berhak’ ke 8 besar. Gerardo Martino yang asal Argentina meninggalkan pola menyerang di kualifikasi zona Amerika Latin yang menempatkan Paraguay jadi runner-up menjadi pola pragmatis di Afsel.

Tapi saya masih terhibur Spanyol yang mengubur Portugal walaupun hanya dengan gol semata wayang David Villa. Seandainya si Eduardo, kiper Portugal, diganti David James mungkin Portugal sudah digelontor 6-7 gol. Benar-benar Eduardo yang sangat gemilang. Spanyol masih menyajikan permainan menyerang dengan tik-tak gemilang dari kaki ke kaki yang diakhiri dengan tendangan atau sundulan ke gawang. Permainan sabar dengan mencoba membongkar pertahanan lawan dari berbagai sisi diperankan dengan baik oleh playmaker Xavi dan Xabi yang dilapis Iniesta dan Busquet serta dengan Torres dan Villa sebagai penggedor sangat memikat. Saya bahkan tidak ngantuk sedikitpun walaupun sudah dinihari dan kelelahan akibat nonton Paraguay-Jepang yang sangat menjemukan. Dan Portugal menjadi pecundang yang dilengkapi oleh Ronaldo yang seperti tidak ada gunanya. Ronaldo tidak pernah melakukan dribling gemilang, sebagaimana sering dia lakukan di MU dan Real Madrid, atau assist. Yang ada malah kehilangan bola terus serta ada pada posisi yang tidak pernah pas.

Itulah 16 besar di Afsel 2010, adopsi pola basket merajalela. Tapi saya masih tersenyum untuk Spanyol, dan berharap agar Argentina dan Belanda ‘tobat’ dan kembali ke pola tradisional mereka. Mudah2an dengan ‘tobat’ itu, saya bisa mengenang PD ini dengan senyuman.

Jakarta, 30 Juni 2010 pukul 13.05 WIB.

Thursday, June 24, 2010

The God Must Be Crazy

Awalnya ‘tuhan berbentuk botol’ dalam filem yang lucu banget tersebut pas diperankan oleh si Jabulani, tapi belakangan Jabulani mulai sedikit jinak meski masih sedikit menyisakan keliaran. Sampai saat ini, hanya di grup G dan H yang hasil akhirnya masih akan ditentukan pada sore dan malam nanti. Dua unggulan Perancis dan Italia, finalis Piala Dunia 2006, pulang sebagai juru kunci di masing2 grup. Apakah ini karena ‘the god must be crazy’? Mungkin bagi pendukung kedua tim tradisional tersebut akan banyak yang mengatakan begitu, tapi bagi saya tidak. Perancis menjadi ’banci’ tanpa Zidane, sedangkan Italia sudah ’ketinggalan jaman’. Inggris yang sebenarnya butuh satu gol tambahan lagi saat melawan Slovenia untuk jadi juara grup hanya mendapatkan mistar gawang. USA yang memastikan lolos ke 16 besar pada menit 90+1 justru menjadi juara grup dan masuk di paruh ¼ dimana tim non unggulan bercokol.

Walhasil, minimal satu tempat di semifinal sudah pasti ditempati tim non unggulan plus 1 kemungkinan lagi. Satu yang pasti diwakili Uruguay, Korsel, USA, dan Ghana. Seandainya Meksiko bisa mengungguli Uruguay pasti akan melengkapi ‘kutukan Jabulani’ karena Uruguay sudah masuk dalam sejarah Piala Dunia dengan menjadi juara 2 kali. Satu tempat lagi akan diperebutkan Paraguay, Jepang, Chile/Spanyol, dan Portugal/Brasil. Spanyol butuh menang atas Chile untuk lolos tanpa melihat pertandingan Swiss-Honduras, maka kemungkinan besar Spanyol akan memaksakan kemenangan dan menjadi juara grup. Lawannya kemungkinan Portugal dimana lawannya Brasil cukup bermain draw, dan Portugal akan melawan Spanyol. Lalu tim manakah diantara Paraguay, Jepang, Spanyol, dan Portugal yang akan meluncur di semifinal? Saya harap itu Spanyol, dan di paruh lainnya lagi adalah Ghana. Saya ingin hiruk pikuk ’tuhan botol’ menaungi satu-satunya tim Afrika yang lolos.

Di ¼ paruh yang lain, Argentina akan kembali menaklukkan Meksiko, lalu baik Jerman maupun Inggris tak akan kuasa menahan laju si Messi yang mengendalikan Jabulani dengan sempurna. Argentina sudah jauh hari memesan tempat di semifinal.

Lalu Belanda, Slovakia, dan mungkin Brasil dan Chile akan berebut melawan kutukan Jabulani. Belanda akan mengatasi Slovakia, dan Brasil mungkin menang lawan Chile. Okelah kalau Brasil menang lawan Chile, tapi kali ini Samba tidak akan mampu melewati Belanda yang gara-gara Jabulani permainannya jadi mirip-mirip Brasil. Belanda akan melengkapi semifinal Afsel 2010.

Tinggal Ghana vs Belanda, dan Argentina vs Spanyol. Bagaimana skenarionya?

’Tuhan botol’ di filem memang benar-benar membuat kacau-balau bangsa Afrika, maka kalau ingin berlaku di PD 2010 maka Ghana akan mengalahkan USA di perdelapan final, lalu Uruguay di perempat final dan 'memakan' Belanda di semifinal, lalu menggulung Argentina di final maka sempurnalah teater The God Must Be Crazy versi Piala Dunia 2010. Ketika melawan Belanda di semifinal anggap saja negeri Kincir Angin itu sudah kehabisan nafas setelah mengalahkan Brasil atau Chile. Dengan adanya masalah pada Sneijder, Van Persie, serta Van Bommel yang terkena akumulasi kartu kuning sehingga tidak bisa main lawan Ghana. Dilengkapi dengan absennya Robben karena cideranya kambuh. Maka Ghana serta-merta melumat Belanda. Di final, Argentina menanti Ghana yang sudah menjadi singa Afrika yang lapar. Messi, tampil kelelahan dan tampil sebentar karena harus digotong akibat akumulasi tekel-tekel keras di babak sebelumnya. Tanpa Messi, Argentina kehilangan taji, dan Ghana 'mengoyak-ngoyak' dengan ganas untuk 'membinasakannya'. Ghana juara baru, Piala Dunia 2010 melahirkan sejarah dalam episode The God Must Be Crazy.

Tapi saya kira ’tuhan botol’ ketemu sang nabi dalam diri Lionel Messi. Messi memimpin Argentina menaklukkan Spanyol, lalu menggilas Orange Belanda di final sebagaimana dilakukan tim Tango final PD 1978. Negeri Evita Peron menjadi juara dunia dan ’sang nabi Jabulani’, Messi, menjadi pemain terbaik.

Ah piala dunia.... Masih cocok dengan cerita lucu sebuah filem tentang Afrika yang penuh mistis.

Kalau di timnas sepakbola Indonesia, ’tuhan botol’ ada pada dalam diri Nurdin Halid dan PSSI-nya.

Kalau untuk negeriku Indonesia, ’tuhan botol’ ada dimana-mana. Ada dalam ’Dana Aspirasi DPR’, Satgas Mafia Hukum, Kasus Susno dan Gayus, dan dalam diri Ariel yang melakoni peran Messi di timnas Argentina sebagai ’penyerang lubang’ dalam arti yang sebenarnya. Pemimpinnya ingin dikesankan sebagai Messi, tapi hobi berputar-putar di lingkaran tengah lapangan. Mau mereformasi polisi dan jaksa, malah bikin Satgas. Kalau dia itu Messi, maka hobinya adalah memberikan bola kepada Sergio Romero (kiper), masih bagus kalau ngumpan ke Demichelis dan Samuel (bek). Oalah, ternyata Indonesia jauh lebih jahiliyah dari pada Nixau (pemeran utama filem) dan masyarakat pedalaman Afrika.

Kalau di kantor saya, kutukan Jabulani oleh ’tuhan botol’ ada dalam bentuk REMUNERASI yang justru memiskinkan hampir semua pegawai non pejabat tinggi.

Jumat, 25 Juni 2010 pukul 13.33 WIB.

Thursday, June 17, 2010

Kutukan Jabulani

Gong Piala Dunia 2010 sudah ditabuh di Afsel. Sementara di pertandingan leg pertama, Jabulani, si bola resmi, benar-benar menjadikan filosofi bahwa hasil akhir pertandingan yang jungkir balik dibanding perhitungan di atas kertas adalah karena ‘bola itu bundar’. Jabulani memainkan peran yang pas dalam filosofi ini. Bola-bola piala dunia yang dipakai sebelumnya terbuat dari bahan yang sebagian besar kulit seperti tango (nama-nama bola sebelumnya mendadak lupa), ...... kini Jabulani datang dengan bahan dasar karet dan plastik. Kata mereka Jabulani tidak stabil, susah dikontrol, dan melayangnya ketika ditendang tidak sesuai keinginan si penendang.

Jauh hari sebelum PD dimulai, keluhan datang dari para kiper terhadap bola ‘ajaib’ ini. Tidak tanggung-tanggung, kiper tangguh macam Gianluigi Buffon dari Italia, Iker Casillas dari Spanyol, David James dari Inggris, sampai Julio Cesar dari Brasil. Bahkan belakangan sebagian besar skuad Samba mengeluhkan ‘kelenturan’ si Jabulani.

Dan sampai leg pertama di pertandingan grup, tampaknya korban terbesar adalah kualitas turnamen dengan minimnya gol yang dihasilkan para penyerang. Hanya 4 tim yang mampu mencetak gol lebih dari 1. Jerman menjadi tim paling subur dengan gelontoran 4 gol tanpa balas ke gawang Australia. Lalu Korsel, Belanda, dan Brasil, masing-masing memetik 2 gol. Belakangan Uruguay mendulang 3 gol, dan Argentina 4 gol pada leg kedua. Selain itu, skor tipis 1-0 seolah menjadi pemandangan biasa pada PD kali ini dan beberapa pertandingan hanya berakhir kacamata alias 0-0.

Hasil ini seolah mengingatkan pecinta bola pada PD 1994 di AS yang sangat minim gol, hanya waktu itu yang dominan adalah permainan bertahan yang diusung juara-finalis Brasil-Italia. Revolusi sepakbola setelahnya adalah FIFA memberlakukan larangan safety first karena tim-tim bertahan benar-benar tidak tahu malu untuk selalu memberi bola ke kiper. Kalau sekarang mau revolusi apa lagi? Minta gawang dilebarin, ditinggiin, atau gak pake kiper sekalian?

Jabulani memang memunculkan kejutan, bukan karena tim favorit bermain jelek, tapi karena tidak mampu menundukkan Jabulani. Spanyol menjadi tim besar yang ‘kalah’ oleh Jabulani.

Awalnya memang kiper yang khawatir, lha kok ya pas dibuktikan oleh Robert Green, sang kiper Inggris. Korban kedua adalah kiper Aljazair, walaupun gak separah Green. Blunder itu seolah jadi ‘hujan sehari panas setahun’ alias menghapus serangkaian penyelamatan gemilang yang dilakukan kedua kiper tersebut.

Korban-korban pada kelompok kedua adalah para bek. Dua bek tangguh asal Serbia dan Denmark, Kusmanovic dan Poulsen melongo dengan luncuran Jabulani. Yang satu hands-ball karena tidak dapat mengantisipasi melayangnya Jabulani sehingga timnya dikenakan penalti, satunya lagi meng-heading Jabulani dengan sangat yakin untuk menghalau tapi malah mengarah teman sesama bek lalu masuk gawang sendiri. Kejadian ini dilengkapi bek Korsel, temannya Park Ji Sung (saya susah mengingat nama-nama pemain Korsel, mirip-mirip, dan juga tampangnya yang hampir seragam), pada leg kedua melawan Argentina. Seolah belum puas sama blunder bek Korsel, Demichelis, bek sangar Argentina juga kehilangan bola mudah yang berakhir dengan gol.

Berikutnya adalah kelompok penendang bebas bola mati. Jabulani bereaksi jauh berbeda dengan bola-bola PD sebelumnya. Jangan mengharap parabola berbentuk pisang sebagaimana dilakukan David Beckham di 3 PD sebelumnya, Roberto Carlos, Zidane, atau jaman Maradona, Platini, sampai Zico atau Cruijf. Jangan tanya jaman Pele, disamping saya belum lahir juga karena pasti tayangannya hitam-putih. Para penendang bebas jitu jaman sekarang benar-benar mati kutu sama Jabulani. Jangankan membentuk tendangan pisang, asal mengarah ke gawang saja tidak. Saya seperti melihat Liga Indonesia dimana pemain-pemain Indonesia waktu menendang bebas ke arah gawang benar-benar jauh dari sasaran. Tuing.... ke langit. Anehnya, itu benar-benar terjadi di PD. Lampard, Sneijder, Donovan, Veron, Xavi, bahkan juga Cristiano Ronaldo. Pelanggaran di sekitar 16 meter bukan lagi momok bagi kiper, justru sebaliknya, sampai saat ini tidak ada gol (yang biasanya sangat) indah tercipta dari para algojo tendangan bebas. Jabulani.... Jabulani....

Juga para pengumpan dari sayap, umpannya jadi menuju atap stadion semua. Navaz (Spanyol), Van Der Vart (Belanda), Lennon (Inggris), Kalau (Pantai Gading), dan beberapa winger lain yang suka memanjakan striker dengan umpan-umpan tariknya yang akurat seolah seperti baru belajar menendang bola.

Pola tim-tim menyerang-pun bermetamorfosa. Pelatih-pelatih cerdik macam Van Marwijk (Belanda), Maradona (Argentina), dan Bielsa (Chile) harus mengakomodasi efektifitas dalam pola mereka. Jangan seperti Verbeek (Australia) yang jadi bulan-bulanan Jerman karena bermain menyerang.

Tapi toh Jabulani meyakinkan bahwa si jenius-lah yang akan menundukkannya. Dia adalah Lionel Messi. Di leg pertama lawan Nigeria, semua dribling-nya tuntas. Baik itu menjadi assist atau shoot on goal. Leo tetap meliuk-liuk dengan Jabulani. Bola sesusah apapun datangnya, si Messidona seolah pawang bagi Jabulani. Memang, dia ‘hanya’ membantu menundukkan Nigeria 1-0, tapi dia benar-benar mewarnai pertandingan dengan keindahan.

Melawan Korsel, walaupun tanpa gol dari kaki atau kepalanya, 4 gol Argentina seluruhnya adalah kreasi bocah yang pernah menderita penyakit kekurangan hormon ini. Dia bisa menendang bebas akurat, mengontrol bola yang sulit, lalu mulai menari-nari mengelabui sekelompok bek lalu memberikan umpan gemilang atau tendangan keras ke gawang. Jabulani telah bertemu pawangnya yang jenius. Si Messiah ini, saking jeniusnya kalau dia kuliah ekonomi saya yakin dia akan lulus jadi doktor cum-laude dan akan meraih hadiah nobel ekonomi. He he he.... tapi beneran deh.

Jabulani sudah dipakai di Bundesliga sejak Februari 2010. Khalayak bola pasti serta-merta menuduh bahwa Jerman sangat diuntungkan oleh keadaan ini. Jabulani diproduksi Adidas, pakai mesin dan bukan tangan seperti yang biasanya. Adidas itu sangat Jerman. Nah untungnya lagi, Jerman itu pemainnya seluruhnya main di Bundesliga, jadi mereka sangat mafhum dengan Jabulani. Apakah Adidas berkepentingan agar Jerman sukses di PD? Wallahua’lam. Tapi, liga-liga lain yang memakai bola Adidas juga memakai Jabulani, salah satunya Major Lique Soccer (MLS). Makanya, AS sangat yakin bisa mengatasi Inggris yang pemainnya semua bermain di Premier Ligue. Premier Ligue memakai bola kulit buatan Nike. Dua liga besar lainnya, Liga Spanyol dan Liga Italia juga memakai bola Nike. Walhasil, apakah Jerman benar-benar ‘berkolaborasi’ dengan Adidas untuk menguasai PD 2010 lewat Jabulani?

Sayangnya, sang pawang Jabulani adalah Lionel Messi.

Jakarta, 17 Juni 2010 pkl 20.45 WIB.

Friday, June 11, 2010

Menyambut Bulan Suci Umat Bola: Piala Dunia 2010 Menjadi Milik Belanda, Spanyol, Inggris, dan Argentina (2)

Lalu Spanyol. Si juara Eropa 2008 dan 1964 ini benar2 kekuatan yang menakutkan mulai dari kiper sampai depan. Punggawa2 El Barca yang merajai Eropa di tahun 2008/09 lalu sangat mewarnai komposisi. Pelatih Vicente Del Bosque membawa kiper Valdes, bek Pique dan Puyol, gelandang Xavi, Iniesta, dan Busquet, serta Pedro Rodigues di depan ke Afsel. Jangan lupa juga sama Villa yang musim depan akan merumput di Barca.

Di kualifikasi, sama dengan Belanda, sapu bersih dengan 10 kemenangan dengan menyisihkan Bosnia, Turki, Belgia, Estonia, dan Armenia. Ujicoba terakhir melumat Polandia dengan 6 gol tanpa balas.

Untuk pola, Spanyol identik dengan pola 4-4-2. Saat menjuarai Eropa pola ini dikombinasikan dengan ball possesion ala total football yang diterapkan dengan sangat efisien. Kiper masih menjadi milik Saint Iker, bek tengah akan ada Pique dengan Machena/Puyol/Capdevilla, wing back kiri milik Arbeloa dan di kanan milik Ramos atau Puyol. Di tengah akan dipimpin sang conductor orkestra Xavi untuk memainkan effective ball possession ala Spanyol, ditemani Xabi/Busquet sebagai gelandang bertahan, lalu Silva dan Iniesta dalam menyerang. Fabregas menjadi alternative utama untuk menyesuaikan pola yang diinginkan Del Bosque. Di depan adalah pakem juara 2008 untuk Villa dan Torres. Sayangnya, jika salah satu cedera maka kedalaman cadangan hanya ada di Pedro yang baru bersinar bersama Barca di musim ini, sedangkan Llorente dan Navas masih perlu membuktikan diri.

Keseluruhan saya cuman mengkhawatirkan lini depan Spanyol, tapi kalau ini teratasi maka tak ada keraguan bahwa Spanyol akan melaju kencang di Afsel.

Non teknis, La Furia Roja (Si merah marun) hobi ‘kempes sebelum berkembang’. Juga sering underpressure jika melawan tim-tim besar. Di 2006, 80 persen skuad sekarang yang di penyisihan grup begitu hebat bisa dijinakkan dengan mudah oleh Zidane dan Perancis yang berlepotan di penyisihan.

Karena berkarakter menyerang, Spanyol berpotensi menghadirkan kesenangan bagi para penggemar bola. Spanyol musti mewaspadai pola2 effective football ala Mourinho di Inter yang bakal dipakai Capello dan Inggris-nya, Lippi dengan Italia-nya, serta Domenech dengan Perancis-nya. Capello akan sangat membahayakan Spanyol, juga Belanda.

Jagoan ketiga saya adalah si juara PD 1966 Inggris. Pasukan yang pemainnya punya bayaran per minggu di atas 1 milyar (pake duit nggak ya?) ini memang kosmopolitan. Nama2 mentereng dari Premier Ligue yang sudah mendunia pasti akan menyilaukan. Tengoklah Rooney di depan, lalu Lampard, Gerard, Carrick, Joe Cole, dan Gareth Barry, di belakang ada John Terry (yang ternyata gak ada apa2nya dibanding Ariel Peterpan.... xi xi xi). Sayang Ferdinand apes. Cuman kiper yang tidak dipunyai Inggris. Seandainya Markus Horison itu warga Inggris saya yakin Capello akan memanggilnya.

Saya tidak akan mengulas banyak skuad Capello yang sudah sangat terkenal. Kemungkinan akan berbentuk 4-5-1 dengan gelandang model diamond, dengan menempatkan Rooney sebagai predator utama. Barisan gelandang akan menyisakan pertanyaan bagaimana Capello menyatukan Lampard dan sang kapten Gerard yang selama kualifikasi hampir tidak pernah bermain bersama (bukan alasan taktik, tapi kebugaran). Eriksson gagal menyatukan kedua sosok berbakat tersebut. Di tengah masih banyak pilihan dengan adanya Carrick, Joe Cole, dan Wright-Phillips. Di posisi bek, walaupun tidak ada Ferdinand, Terry masih dapat ditemani Ledley King, atau Jamie Carragher yang dilengkapi Glen Johnson. Nah kiper ini yang bermasalah, toh akhirnya David James juga yang dipasang.

Inggris tidak enak dilihat tapi akan banyak menang.

Jagoan terakhir saya adalah Argentina. Tim ini sangat tidak meyakinkan di kualifikasi, apalagi semenjak dilatih Maradona jadi makin tidak meyakinkan. Pola yang tidak jelas ditambah dengan improvisasi yang tidak efisien membuat Albiceleste terseok-seok di kualifikasi zona Amerika Latin.

Lho lalu apa alasannya jagoin Messi dkk? Skuad, yah skuad Argentina yang sungguh2 sangat mengkilap dibanding yang lain. Tim Tango punya barisan depan terhebat di dunia yang berjaya di liga-liga Eropa mulai dari Lionel Messi, Higuain, dan Aguiro (Spanyol), Milito (Italia), Tevez (Inggris), sehingga meninggalkan Lisandro Lopez, sang top skor Liga Perancis. Di tengah akan ada Mascherano, Veron, Di Maria, serta Maxi atau Gutierez dengan meninggalkan duet Inter Milan Cambiasso dan Zanetti. Di bagian center back ada duet Munchen-Inter dalam diri Demichelis dan Samuel yang didampingi Heinze dan Otamendi. Sergio Romero menjadi kiper hebat Argentina satu2nya yang sempat mengantar Alkmaar juara Liga Belanda tahun lalu.

Dalam beberapa kesempatan Maradona ingin Messi ada dalam central permainan. Kalau biasanya di Barca si bocah ajaib menyerang dari sektor kanan, di Argentina Messi akan selalu ada di jantung pertahanan lawan. Posisi ini akan sama dengan posisi Maradona di PD 1986 dan 1990, kalau sekarang seperti fasih dilakoni Sneijder dan Lampard atau Zidane (1996-2006) dan Totti (1999-2006). Orang biasa menyebut ’penyerang lubang’, tapi istilah itu lebih cocok untuk Ariel Peterpan.... Xi xi xi....

Banyak yang pesimis, karena lebih banyak yang menyarankan agar Argentina mengadopsi pola Barca dalam mengoptimalkan Messi. Saya berpendapat lain, Messi berhasil menjalankan peran itu di edisi Olimpiade 2008 dengan mendapatkan emas. Pelatihnya Christian Batista, eh itu mah penyanyi tetangga, maksudnya Sergio Batista, rekan Maradona di skuad Argentina 1986 dan 1990. Sayangnya Batista tidak mau bergabung di tim official yang dipimpin Maradona. Peran Messi akan melapis duet striker Teves dan Higuain/Milito.

Ini seperti mengingatkan Maradona yang melapis Valdano-Burruchaga di 1986, Burruchaga-Cannigia di 1990, dan Cannigia-Batistuta di 1994. Maradona berhasil melakukannya, termasuk di 1994 sebelum si cebol diskors.

Argentina sangat tergantung pada keberhasilan pola ini, jika berhasil maka semua kesebelasan harus bersiap2 diberondong oleh ‘senapan mesin’ Argentina. Sejauh ini cukup berhasil di level ujicoba, baik ketika jaman kualifikasi atau menjelang PD. Ketika bertanding resmi, seperti di kualifikasi dulu memang sangat2 tidak berhasil. Tapi saya percaya ini akan berhasil di PD dengan Messi yang akan menjadi pemain terbaik.

Saya meninggalkan barisan tim2 tradisi juara dunia mulai dari Brasil (5 kali), Italia (4), Jerman (3), Perancis (1), Uruguay (2), serta tim2 yang sedang meningkat seperti Portugal dengan Ronaldo-nya, dan beberapa tim Afrika.

Brasil punya skuad sangat biasa2 saja dengan meninggalkan pahlawan PD 2002 dalam diri Ronaldo dan Ronaldinho. Ronaldinho sebenarnya masih bisa berguna, sayangnya Dunga tidak perlu. Saya sendiri juga masih belum melihat kehebatan Dunga dalam meracik skuad Samba yang praktis mengandalkan Kaka yang di edisi Liga Spanyol terakhir justru lebih banyak sibuk dengan hernia-nya. Duet striker Fabiano dan Robinho adalah deretan penyerang kelas 2 yang masih kalah bersinar di level klub (di Sevilla Kanoute selalu lebih tajam, dan di Manchester City Robinho minder dengan Tevez dan Adebayor).

Sang juara bertahan Italia benar2 tim yang mulai menua. Efective football yang mengandalkan pertahanan yang kuat disertai serangan balik yang maut sudah tidak seefektif 2006. Di Piala Eropa 2008 Belanda mengguduli Italia dengan 4-1. Pertahanan yang mengandalkan kapten renta Cannavaro (37 tahun) benar2 jauh dari harapan.

Perancis belum pernah membuktikan bisa ditinggalkan sang maestro Zidane selama kurun waktu dia bermain (1995-2006). Di edisi PD 1998 dan Piala Eropa 2000 juara. Di edisi 2006, Zidane harus comeback dari pengunduran dirinya untuk meloloskan Perancis ke PD sekaligus mengantarkan sampai ke final. Edisi PD 2002, Zidane cidera dan bermain di penyisihan grup terakhir dengan kondisi seadanya, hasilnya Perancis terdepak. Di Piala Eropa 2008, Perancis terkoyak2 salah satunya oleh bombardir Belanda 3-0 dan pulang dalam keadaan tim terburuk di edisi dimana Spanyol juara.

Jerman suka mengejutkan. Seperti di edisi 2002 yang melaju terus ke final. Portugal harus membuktikan bahwa semifinal di 2006 bukan puncak penampilan generasi Ronaldo. Portugal terengah-engah di kualifikasi dan harus menjalani play-off untuk menuju Afsel 2010.

Tuan rumah Afsel saya yakin tidak berbicara banyak. Saya berharap Drogba fit untuk membawa Pantai Gading membuat kejutan. Asia kali ini tidak akan berbicara banyak. Duo Korsel-Korut, dan Jepang akan meramaikan even aja.

Lalu, jika final diisi oleh Belanda vs Spanyol, maka pertarungan menyerang di puncak akan sangat membahagiakan pecinta bola dunia sekaligus akan melahirkan juara baru Piala Dunia.

Jika ada juara baru di 2010 ini, saya harap itu Belanda.