
Sore tadi udara cukup cerah dan sempurna untuk menyaksikan pertandingan antara Indonesia vs Kamerun. Kali ini cuku spesial karena saya mengajak anak laki-laki saya setelah Istri dan anak perempuan saya lebih memilih berkegiatan sendiri-sendiri. Yah, saya senang karena sekarang si entong yang berumur 4 tahun juga hobi nonton bola, sehingga saya tidak usah repot nyari teman nonton bola.
Kembali ke lapangan, kalau hari Rabu kemarin waktu lawan Timor Leste yang nonton cuman sedikit banget, katanya gak sampai 5 ribu yang membuat GBK kelihatan melompong. Nah kali ini lain kejadiannya. Hampir seluruh tribun barat bagian bawah penuh plus tribun utara dan selatan. Berapa puluh ribu ya...

Di tribun timur, gara-gara panggung buat perayaan puncak 1 Muharram besoknya, membuat penonton banyak yang 'migrasi' ke tribun utara dan selatan. Saya sempat memperhatikan satu kelompok suporter sedang 'towaf' dari tribun timur menuju tribun selatan.

Berbagai elemen kelompok suporter 'mengisi absensi' dengan spanduk-spanduk mereka. Mulai dari Bonek Surabaya, Pasoepati Solo, Panser Biru Semarang, Spartacks Padang, Macz Man Makasar, Slemania, Bekasi, Brebes, Purbalingga, dan beberapa lainnya. Saya agak 'scanning' kelompok suporter soalnya kelompok suporter asal kampung saya, Aremania, absen.
Suara terompet bersahut-sahutan dan teriakan 'Indonesia! Indonesia!' berkumandang berkali-kali ketika para pemain Indonesia melakukan pemanasan. Tapi suporter Indonesia kayaknya udah lumayan maju, ketika tim Kamerun melakukan pemanasan suporter memberikan aplaus yang cukup meriah juga.

Kemudian sayup-sayup sebuah kelompok suporter menyanyikan 'Garuda di Dadaku', sontak suporter yang lain mengikuti. Terasa lebih menarik karena anak saya berdiri di kursi dan ikut menyanyikan lagu itu dengan keras.
Tibalah saat pertandingan. Dimulai baris para pemain, bendera Merah Putih dan Kamerun, serta bendera fairplay.
Lalu waktunya Indonesia Raya dikumandangkan. Inilah saat yang membuat hati tergetar. Tampak para pemain Indonesia tidak kalah semangat dengan para penonton menyanyikan dengan sangat hikmat. Termasuk si Tony Cussel dan JvB, punggawa baru timnas Garuda.
Saat salaman masih ada surprise ketika Din Syamsudin yang Ketua Muhammadiyah justru semacam menjadi tuan rumah diiringi pengurus PSSI.
Indonesia kali ini dikapteni Wahyu Wijiastanto. Starter Endra Prasetya, Handi Ramdan, Nopendi, Novan Setya, Toni Cussel, Taufik, Okto, Andik Vermansyah, Irfan Bachdim, dan JvB.
Permainan di awal-awal Babak I terjadi cukup cepat. Kedua tim silih berganti menyerang. Cuman para pemain Kamerun yang punya badan kayak Wahyu semua memang kelihatan lebih tajam. Setidaknya ada 2 peluang emas yang gagal dimanfaatkan pemain mereka nomor punggung 9 dan 10. Endra Prasetya melakukan tidak kurang 3 kali penyelamatan gemilang.
Umpan-umpan Toni Cussel yang dipercaya coach Nil sebagai jangkar lini tengah bersama Taufik beberapa kali sering salah sasaran karena salah pengertian, namun dia juga sigap dalam memotong aliran serangan lawan dengan beberapa tekel bersihnya. Okto dan Andik terlalu sering memaksakan diri melewati lawan yang membuat serangan menjadi sia-sia. JvB bermain cukup efektif. Serangan Indonesia yang memakai JvB sebagai wallpass cukup efisien dalam merepotkan pertahanan Kamerun. Sementara si Irfan sangat terllihat punya mobilitas yang sangat tinggi dalam menyerang dan bertahan. Bener-bener nafas 'kuda'.
Selepas 20 menit permainan Indonesia mulai sedikit hilang kecanggungan. Permainan mulai mengalir dan serangan-serangan sayap dari Okto dan Andik mulai menggigit yang sayangnya barisan belakang Kamerun juga cukup tenang mengatasinya.
Walhasil, silih berganti serangan tidak membuat jala kedua tim bergetar.
Pada babak kedua coach Nil melakukan beberapa pergantian. Kiper Endra diganti Wahyu Trijati, dan BP menggantikan JvB. Pada awal-awal babak serangan dari sayap terlihat sangat hidup. Okto dan Andik saling bergantian memberikan kontribusi dalam merepotkan barisan pertahanan kamerun. Bahkan Andik sempat memaksa kiper Kamerun melakukan penyelamatan gemilang atas tendangan kaki kanannya ke tiang jauh.
Beberapa pemain terlihat cedera, dan yang kelihatannya parah si Handi Ramdan yang bermain cukup lugas dan jarang kalah dalam bola-bola atas. Fahrudin yang menggantikannya juga bermain cukup tenang. Tampaknya barisan pertahanan sudah cukup mantap.
Di tengah coach Nil menarik Andik dan Okto untuk memasukkan 'Kakak' Ellie Aiboy dan Vendry Mofu. Dengan formasi ini, Indonesia berusaha mengefisienkan perebutan di lini tengah mengingat keadaan kritis pada 20 menit terakhir yang biasanya timnas kehilangan konsentrasi. Pelajaran dari lawan Korut beberapa waktu lalu membuat jajaran pelatih sudah mengantisipasinya.
Akhirnya dua babak selesai dengan kedudukan tetap 0-0. Penonton tampak puas dengan sajian timna. Aplaus suporter pada para pemain timnas ketika pertandingan berakhir menandakan hal itu. Yah, Kamerun adalah tim dunia, walaupun yang dibawa ke GBK adalah tim pelapis yang sebagian besar dari liga domestik, suporter tetap bangga akan pencapaian itu.
Walhasil, selamat datang pahlawan-pahlawan baru timnas. Namamu sudah tidak lagi aneh. Suporter-suporter sangat fasih dengan kalian semua. Siapapun pegang bola, tidak ada yang tidak dikenal. Kalau dulu anak saya cuman tahu sama Irfan Bachdim, Andyk, dan Okto, kini dia juga tahu Taufik, Nopendi, Wahyu Wiji dan Wahyu Tri, Endra, Novan Setya, Mofu, Toni, JvB sampai si senior Ellie. Oh ya, anak saya gak tahu BP, tapi sekarang dia juga tahu.
Sedangkan nama-nama pemain yang tidak bernyali untuk bergabung, sudahlah, PSSI harus segera memberikan kado pertandingan perpisahan kepada mereka.
Untuk para ISL lovers, siap-siap Anda gagu dan gagap dengan nama-nama pemain Anda. Jangan sampai anak saya menyebut bahwa pemain-pemain dari klub ISL di antaranya: Umuh Muhtar (Persib), Lalu Mara (Pelirema), La Sya (Persipura), Hendri Zainudin (Sriwijaya FC), Feri Paulus (Persija), Sudarmaji (Pelirema), Iwan Budiyanto (Pelirema), Wisnu Wardana (Persebaya DU), Dodi Alex Nurdin (Sriwijaya FC), Rendra Kresna (Pelirema), dan La Nyala Mataliti (Persebaya DU/kapten KPSI & ISL lover).
Nama-nama itu telah menenggelamkan sekaligus mengkerdilkan jiwa semua pemain ISL. Ah sudahlah, saya lagi bergembira ria dengan generasi baru sepakbola Indonesia. Sepakbola yang bermartabat.
Jakarta, 17 Novemnber 2012
Salam,
Udyn 'Jon Si Gembala Sapi' Muhyiddin
